Politik    Sosial    Budaya    Ekonomi    Wisata    Hiburan    Sepakbola    Kuliner    Film   
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan

Latihan SIM di 306 Desa, Jombang Cetak Rekor MURI

Beritajombang.net - Kabupaten Jombang meraih rekor MURI (Museum Rekor Indonesia), Kamis (12/3/2015). Piagam penghargaan itu diberikan karena Jombang menggelar latihan praktik SIM (Surat Ijin Mengemudi) tiga pilar Kamtibmas di 306 desa. Lauching terobosan kreatif itu digelar di depan Pasar Mojoagung, sekaligus penyerahan piagam MURI.

Kapolres Jombang AKBP Akhamd Yusep Gunawan menjelaskan, program tersebut dilakukan guna mempermudah untuk mendapatkan SIM. Caranya, di setiap desa dibuatkan lokasi praktik SIM. Yakni, jalur zig-zag serta jalur berputar membentuk angka delapan. Lokasi itu tempatnya bervariasi, ada yang di depan kantor desa, di halaman penggilingan padi, serta di jalan umum.

Nah, warga yang ingin mengurusi SIM, bisa menggunakan area tersebut untuk latihan. Jika dalam latihan itu sukes, maka akan mendapatkan rekomendasi dari tiga pilar Kamtibmas, yakni Babinsa (Bintara Pembina Desa), Bhabinkamtibmas (Bhayangkara Pembina Keamanan Desa), serta Kades (Kepala Desa). "Setelah mendapatkan rekomendasi, warga bisa mengurus SIM di Kantor Satlantas Polres Jombang," ujar Akhmad Yusep, saat acara.

Akhmad Yusep mengungkapkan, untuk saat ini seluruh desa sudah mempunyai lokasi praktik SIM tersebut. "Sekali lagi, ini untuk mempermudah warga untuk mendapatkan SIM," katanya menambahkan.

Piagam penghargaan itu diserahkan oleh Paulus Pangka dari MURI kepada Kapolres Jombang AKBP Ahmad Yusep Gunawan, Bupati Nyono Suharli Wihandoko, serta Komandan Kodim/0814 Letkol Arm Muhammad Haidir.

"Penghargaan ini kami berikan karena lokasi latihan SIM ini pertama dan terbanyak di Indonesia, yakni 306 desa. Sebelumnya belum ada kabupaten yang melakukan serupa," ujar Paulus Pangka.

Acara launching praktik SIM tiga pilar Kamtibmas ini dihadiri sejumlah pejabat. Diantaranta, Kapolda Jatim Irjen Pol Anas Yusuf, Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Eko Wiratmoko, Kakorlantas Polri Irjen Pol Condro Kirono, serta Kabaharkam Polri Komjen Pol Putut Eko Bayu Seno.

Bukan hanya itu, sejumlah Kapolres di lingkungan Polda Jatim juga hadir di lokasi. Tidak ketinggalan pula, ratusan Kades, ulama, serta tokoh masyarakat. Dalam kesempatan itu, para pejabat yang hadir juga melihat secara langsung praktik ujian SIM yang diikuti puluhan masyarakat. Ony

JFP Gelar Pameran Fotografi Ponsel


Sejumlah warga melihat foto yang dipamerkan pada Car Free Day di Jalan Wahid Hasyim Jombang, Jawa Timur, Minggu (8/3). Pameran yang digelar komunitas Jombang Fotografi Ponsel Jombang itu menampilkan sekitar 72 karya foto yang dibuat menggunakan kamera HP. Ony

Semarak Kemerdekaan



JOGOROTO, (16/8) - SEMARAK KEMERDEKAAN. Peringatan hari kemerdekaan Indonesia tepat pada 17 Agustus 2014, sudah disemarakan dipelbagai daerah di Kabupaten Jombang. Baik berupa pawai, lomba serta pelbagai cara lain yang ditunjukan terhadap usia Indonesia ke 69 Tahun. Kecamatan Jogoroto salah satunya, sebelum detik-detik Proklamasi, melibatkan peserta didik dan masyarakat berbaur menyatu mengitari ruas jalan desa untuk menyambut lebih dari setengah abad usia negeri ini. (Foto: Rahmat Sularso Nh./bejo.NET)

Kumuh: Baleho Calon Legeslatif Sesaki Pandangan

Rententan baleho calon legislatif di persimpangan traffic light Jalan dr. Sutomo Jombang.

beritajombang.net, JOMBANG - Barisan baleho yang semerawut dan berlomba tampil dimuka untuk terlihat pengguna jalan. Membuat semakin merusak pemandangan di sepanjang jalan. Tidak adanya ketetapan aturan yang mewadahi tata cara pemasangan, ukuran dan tempat membuat calon legeslatif berupaya membuat semenarik mungkin. Akibatnya, banyak yang mengindahkan sisi keelokan tata kota. (Rahmat Sularso Nh./beritajombang.NET)

Berburu Senja di Pematang Brantas

Pemandangan Jembatan Jalan Raya Ploso saat malam.
Rahmat Sularso Nh./bejo.net

beritajombang.net, PELANDAAN - Masihkah Anda memegang kepala saat memikirkan kemana mencari tempat yang menyenangkan untuk menghapus penat pekerjaan. Bahkan tempat yang bisa dijadikan sebagai penghapus dahaga kebersamaan dengan keluarga. Sudah saatnya kita tidak mencari-cari lagi melainkan membuat sebuah tempat hiburan tersendiri. Bagaimana kalau mengikuti perjalanan saya kali ini berburu senja di pematang Sungai Brantas?

Ada tempat yang asyik untuk menikmati senja di bagian Utara Jombang. Tujuan kita sekarang adalah ke Bendungan Karet atau masyarakat Jombang lebih mengenal dengan sebutan Dam Karet di Desa Jatimlerek, Kecamatan PlAndaan. Lebih kurang 30 (tiga puluh) menit perjalanan dari pusat Kota Jombang dengan berkendara menggunakan sepeda motor. Deru angin yang berhembus semakin menambah semangat saya untuk segera sampai di sana. 

Sebelumnya menyeberangi satu-satunya jembatan yang menghubungkan beberapa kecamatan di Utara Brantas seperti Kecamatan Plandaan, Kabuh, Ploso, Kudu dan Ngusikan. Benar saja karena satu-satunya jalan penghubung praktis kepadatan pun terjadi. Kendaraan dari arah berlawanan bergantian melewati jembatan dengan Model Rangka III tersebut. Ayunan yang hebat terasa ketika saya berhenti tepat di tengah jembatan karena mulai macet. Tetapi masih saya yakini untuk sementara jembatan ini masih bisa bertahan kontruksinya untuk menahan beban kendaraan yang melintas.

Untuk menikati suasana senja di atas Dam Karet saya harus naik ke atas Pematang Sungai Brantas atau pembatasnya. Di sana terdapat pos pantau untuk mengawasi kondisi Dam Karet. Cukup luas untuk sekedar duduk dan mencari posisi yang tepat untuk mengabadikan momentum tersebut dalam kamera. Dam Karet memang termasuk salah satu bendungan yang unik karena bisa di kempeskan dan kembali di pompa untuk menaikan bendungan. Di sebut Dam Karet sebab struktur bangunan bendungan ini terbuat dari karet.

Informasi yang saya peroleh dari petugas di sana tebal  Dam Karet mencapai 5,5 milimeter dan 12 milimeter. Sedangkan panjangnya 9 meter hingga 10 meter, serta lebamya 150 meter. Cukup kuat untuk menahan goresan benda tajam. Sementara cara pengoperasian Dam Karet ini dengan menggembungkan pada saat  musim kemarau, sebaliknya saat musim penghujan dan volume air di Sungai Brantas naik maka dilakukan pengempesan. Kalau menggembungkan bisa dengan air atau pun dengan udara.

Ternyata saya tidak sendiri, ada pencari ikan sangat berani berada di atas Dam Karet membawa pancing. Dari arah sebrang juga ada yang bersiap menggunakan perahu sampan menyusuri arus  Sungai Brantas  tanpa menggunakan pengaman. Menggunakan satu sampan untuk mendayung tidak lama mereka sudah ada dihadapan saya. Mereka juga pencari ikan yang sebelumnya sudah meletakan kerambah dan saat ini tinggal mengambil. Semakin bertambah larut deras percikan air dari Dam Karet semakin meninggi hingga mengenai di ujung mata lensa kamera saya. Keindahan memancar tatkala air Sungai Brantas di atas Dam Karet memroyeksikan cahaya matahari yang beranjak tenggelam.

Hari semakin gelap, saya memilih segera meninggalkan Dam Karet sebab tidak begitu banyak penerangan di sana. Perjalanan semula saya ulangi kembali tetapi sesaat akan melintas di jembatan Sungai Brantas saya menemukan keindahan lain. Lampu-lampu kendaraan yang menyorot mempercantik jembatan. Biasanya kalau terlihat benderang jembatan tersebut terkesan biasa saja. Namun kini berbeda dan saya memilih berhenti sejenak untuk menikmati keindahan jembatan sambil menghabiskan senja yang mulai berubah warna dari kuning menjadi jingga.

Terbukti menghabiskan sore dengan berburu senja telah melupakan sekejap penat pekerjaan, jika tidak percaya silahkan dicoba. 

Temukan sensasi sendiri berburu senja ! (lar)

Nikmatinya Kopi Luwak Wonosalam

Kopi Luwak Wonosalam.
Rahmat Sularso Nh./bejo.net
beritajombang.net, WONOSALAM - Berbekal pengalaman merantau selama kurang lebih 21 tahun di Jakarta, Semi Kusriana warga asal Desa Sumber Kecamatan Wonosalam nekad berbisnis Kopi Luwak. Melihat prospek yang begitu menjanjikan pada saat itu ibu dua anak ini bersama adik mencoba memasarkan ke berbagai tempat di Indonesia, namun belum terlihat hasil yang memuaskan. Dan akhirnya dua tahun belakangan ini Semi Kusriana memutuskan kembali ke tempat kelahiran yaitu Wonosalam.

Seperti yang kita ketahui, bahwa kopi luwak hanya bisa dihasilkan oleh biji kopi yang di makan musang (Luwak) yang telah dikeluarkan sebagai kotoran. Biji kopi yang sudah dikeluarkan dari perut luwak tersebut sudah mengalami fermentasi oleh enzim didalam perut luwak. Nah karena telah mengalami fermentasi tersebut, cita rasa seduhan kopi luwak menjadi unik. Dan hingga saat ini, mesin untuk membuat tiruan kopi luwak masih belum bisa dikembangkan oleh manusia. 

“Setelah stok kopi luwak kita sudah banyak hingga satu kwintal, namun untuk memasarkannya kita kurang bisa. Karena mungkin hanya orang yang tahu keberadaan dan manfaatnya saja yang beli dan juga mungkin harga yang cukup mahal juga, makanya kita coba kembali ke desa untuk jual seduhan dan bubuk luwaknya,”jelas Semi.

Ketika kita datang ke kedai kopi luwak milik bu Semi di kawasan dataran tinggi Wonosalam Jombang, mungkin kita akan terkejut dan tercengang melihat sajian kopi luwak murni dengan suasana pedesaan, hawa yang sejuk pemandangan yang indah membuat kenikmatan kopi luwak sungguh terasa khasnnya. Kenikmatan itu terlengkapai dengan harga yang cukup murah yaitu Rp.10.000 untuk setiap cangkirnya.

“Kenapa kita jual murah, karena semua proses kita kerjakan sendiri mulai dari memberi makan luwak, perawatan sampai dengan penyajian semua kita handle sendiri, selain seduhan kita juga jual untuk kemasan 1 ons dengan kemasan yang cukup menarik seharga Rp.100.000 /ons,”ungkap ibu dua anak ini.

Harga sekilo bubuk kopi luwak satu juta rupiah memang sesuai dengan kenikmatan dan manfaatnya. Melihat dari proses menghasilkannya tergolong gampang-gampang susah. Luwak hewan penghasil satu-satunya kopi luwak adalah hewan yang mudah stress, sehingga tidak dapat ditangkar dan sulit dipelihara. Dan kini hewan nocturnal ini semakin sulit didapatkan dari alam liar, satu ekor luwak saja hargannya bisa jutaan. Dan jikalau luwak sudah stress dalam pemeliharaan, maka ia harus dilepas, jika tidak ia akan mati. Itulah kenapa kopi luwak hanya dapat diproduksi dalam jumlah terbatas. Sesuai dengan hukum ekonomi,”barang sedikit, permintaan banyak harga tentu akan tinggi.”

Awalnya Bu Semi memiliki 10 ekor luwak, yang awalnya di belinya dari pasar hewan di Mojokerto, namun seiring berjalannya waktu sifat hewan yang satu ini mudah stress, ada beberapa yang dilepaskan ada sebagian yang mati. Dan sampai saat ini hanya tinggal 4 ekor luwak yang masih hidup.

“Untuk makan kita khususkan biji kopi asli Wonosalam yaitu jenis terbaik Kopi Asisa, jika siang kita kasih minum susu dan dua hari sekali kita beri makan daging. Menurut beberapa pendapat orang Kelebihan kopi luwak jika orang yang memiliki penyakit mag, kan tidak boleh mengkonsumsi kopi namun untuk kopi luwak tidak apa-apa. Dan kopi luwak ini tak bikin kembung,”ujar pemilik kedai kopi luwak Wonosalam ini.

Sejak dua tahun membuka kedainnya kopi luwak produksi Wonosalam ini sudah menyebar ke beberapa daerah sekitar Jombang, bahkan sudah memiliki pelanggan tetap dari taiwan, china dan masyarakat penikmat kopi. Seperti yang ditemui Crew Suara Pendidikan ketika berkunjung kesana, ada warga taiwan yang hampir setiap bulan membeli 1,5 kg bubuk kopi luwak. Dan bertemu penikmat kopi dari Mojokerto, pak Sumardi seorang pegawai perhutani yang bertugas di Banyuwangi .

“Cukup unik untuk rasa kopi luwaknya, saya sering kesini  bersama keluarga pas saya libur kerja. Ya sangat murah sekali, Cuma Rp.10.000 kalo di Surabaya Rp.80.000. ini mungkin kalau semua penikmat kopi di Jombang tau kalau disini ada kopi luwak asli pasti ingin nyoba.”pungkas Sumardi sambil mengaduk kopi didepannya. 

Ingin tahu sensasi kenikmatan pahitnya Kopi Luwak asli Wonosalam? Tinggal datang ke kedai sederhana Bu Semi Kusriana di Desa Sumber Kecamatan Wonosalam Jombang. Anda akan di manjakan pahitnya kopi luwak, segarnya udara, suasana tenang pedesaan, dan pamandangan hijau nan indah. Dijamin sekali anda kesana pasti ingin coba lagi.  (rul/lar)

Lihat Karnaval di Jombang, Pulang Bawa Hadiah

Polres Jombang bekerja sama dengan Jombang Photography Community menggadakan LOMBA FOTO :
" Karnaval jombang 2013 "
sub tema : 
1. Marching band(Drum corp Akpol Semarang) 
2. Dinamika jombang mewarnai Indonesia.

Syarat lomba: 
1.Lomba foto bersifat lokal
2.Terbuka untuk umum
3.Tidak dipungut biaya(Gratis)
4.Foto milik pribadi (bukan karya orang lain)n bukan stock foto, dan diambil pada saat acara berlangsung
5.Foto harus sesuai tema"karnaval jombang 2013" sub tema *marching band Drum Crops Akpol Semarang* *dinamika jombang mewarnai Indonesia*.
6.Lokasi obyek pengambilan foto diseluruh rute karnaval 2013.
7.Jumblah foto dibatasi tiap peserta max 3 foto.
8.Ukuran file digital foto disimpan dalam format JPEG medium(minimum skala 6)nama filedigital: nama peserta_judul_lokasi pemotretan_no hp_alamat email._
9.Tidak diperkenankan mencantumkan data,tulisan/gambar apapun dibagian depat foto.
10.Rekayasa digital diizinkan sebatas sama dengan yang biasa dilakukan dalam kamar gelap fotogarfi film,yaitu:cropping,kontras, dodging,burning dan saturasi.
11.Semia foto pemenang menjadi milik panitia dan apabila panitia menggunakan foto untuk keperluan pubilkasi akan meminta izin kepada pemilik foto.
12.Foto harus sudah diterima panitia pada tanggal 14 September dan selambat-lambatnya tanggal 16 September 2013 pukul 21.00
14.Panitia berhak mendiskualifikasi peserta sebelum dan sesudah penjurian apabila di anggap melakukan kecurangan.
15.keputusan dewan juri sah dan tidak dapat diganggu gugat.
16.Dengan mengirimkan karya foto berarti peserta telah dianggap menyetujui semua pesyaratan yang telah ditetapkan oleh panitia.

Syarat pengumpulan foto :
1.Karya foto dapat dikirim soft file :
* maksimal 3 foto berbeda dalam bentuk file digital sesuai syarat di atas.
*dimasukkan dalam satu folder dan maksimal besaran folder 10(sepuluh) MB
Karya foto dapat dikirim ke alamat email lombafotojbg@gmail.com atau lombafotojbg@yahoo.com
2.Pengiriman melalui fisik :
*maksimal 3 foto berbeda dalam bentuk file/softcopy dalam bentuk cd/dvd.
3.Foto dapat diantar langsung ke alamat :
Sekretariat panitia Lomba Foto Graha Media (PWI) Jl.Wahid Hasyim Jombang
Dengan menghubungi Jalal (081235905090 atau 0321 7227223)

Dewan Juri :
1. Pihak Polres Jombang
2. Luhur Wahyu (JPC)
3. Jalaluddin Hambali (Radar Mojokerto)

Aji

Duet Panjat Pinang dan Kuda Kepang Meriahkan Kemerdekaan

Peserta lomba panjat pinang dan pemain Kuda Kepang beraksi/munthis stanislavski.
Jombang, beritajombang.net - Nuansa kemerdekaan masih sangat lekat hingga akhir bulan Agustus seperti sekarang ini. Beragam perayaan pun masih digelar dengan pelbagai bentuk yang melibatkan masyarakat secara meluas. Tidak mau ketinggalan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jombang menggelar lomba panjat pinang dan kesinian Kuda Kepang.

Sebuah aksi tontonan rakyat yang diselenggarakan hari Sabtu (24/8) di Aloon-aloon Kabupaten Jombang ini mampu menyedot minat masyarakat untuk datang dan menyaksikan langsung. Sepertinya mereka pun sudah merindukan kesenian rakyat seperti Kuda Kepang tampil sebagai tontonan rakyat di area terbuka. Terbukti ratusan orang memenuhi pelataran aloon-aloon sebelah Utara dan mengelilingi dua pohon pinang yang sudah ditancapkan beserta mencermati atraksi Kuda Kepang.

Sebujur tambang biru dibentang sebagai pembatas. Namun penonton yang atusias baik anak-anak ataupun orang dewasa lambat laun merangsek masuk di area tersebut. Sangking asyiknya memberikan semangat kepada peserta lomba panjat pinang yang telah berjibaku naik turun merebut hadiah di ujung pinang dan menghitam terkena oli. Tanpa disadari salah seorang penonton kerasukan di tengah atraksi Kuda Kepang Turonggo Ronggo Jati dari Dusun Maron, Desa Sidowarek, Kecamatan Ngoro pimpinan Bopo Riyanto.

Bahkan pemain Kuda Kepang yang sudah bermain di luar kesadaran sesekali mendekati penonton. Serentak saja penonton lari kelabakan menghindari pemain Kuda Kepang yang sedang menari-nari tersebut. Sementara kelompok yang memenangkan dan berhasil lebih dulu mengambil hadiah di ujung pinang sangat riang sambil mengibar-kibarkan bendera merah putih yang tertancap di sana. (lar)

As Roda Patah, Truk Gandeng Terguling



Jombang (beritajombang.NET) - Kemacetan panjang terjadi di ruas jalan Mojokerto - Kertosono, tepatnya di barat perempatan tirtawisata Desa Keplaksari Kecamatan Peterongan. Jum'at (16/82013) malam. Hal itu disebabkan truk gandeng patah as roda belakang.
Truk tersebut mengalami patah pada bagian as roda. Gandengan truk terguling menghalangi jalan dari arah Surabaya menuju Kertosono.
Berdasarkan informasi yang dihimpun beritajombang.net, kejadian tersebut berlangsung sekitar pukul 18.15 WIB. Truk gandeng berwarna kuning tersebut dari arah Surabaya menuju Madiun. Tiba-tiba as roda bagian belakang patah dan terguling, beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Alhasil, arus lalulintas dari arah timur terhalang. Kemacetan. Terjadi sepanjang 1,5 km.
Petugas dari Satlantas Jombang langsung turun tangan. Korps berbaju coklat itu menerapkan sistem contraflow atau sistem lawan arus.
" Ini bukan kecelakaan, hanya truk gandeng yang mengalami patah as roda belakang, sehingga tergulinh di tengah jalan. Untuk mengurai kemacetan kami menerapkan sistem contraflow, evakuasi sepertinya berlangsung lama, mengingat truk tersebut penuh muatan semen, untuk bisa menderek truk tersebut kita menunggu kuli guna memindahkan semen ke truk pengganti" pungkas Iptu iswan. (Lw2)

Melihat Dari Dekat Tradisi Pesta Petasan Desa Keras

Warga menyalakan petasan jenis sreng dor. Foto Luhur W Wijaya
Jombang (beritajombang.NET) - Sore itu, Selasa (13/8) Desa Keras, Kecamatan Diwek mendadak ramai, sepanjang jalan desa yang berdekatan dengan makam Gus Dur ini sudah di penuhi pedagang kaki lima (PKL). Telisik punya telisik ternyata desa itu akan mengadakan pesta petasan

Kendati pesta petasan yang dimulai sekitar pukul 20.00 WIB hingga dini hari itu membahayakan keselamatan jiwa tapi pesta “dar der dor” di ketinggian sekitar 50 meter dengan percikan warna warni kembang api itu selalu dibanjiri massa. Bahkan, saking terkenalnya, pengunjungnya tak hanya dari warga Jombang saja. Namun, tak sedikit massa yang datang dari luar Jombang, semisal Kediri, Nganjuk, Mojokerto, dan Lamongan

Saat yang ditunggu-tunggu telah tiba, seperti dikomando warga membawa gantangan bambu yang diatasnya terdapat deretan mercon jenis sreng dor. Sebagai pembukaan warga menyalakan mercon sebesar lengan orang dewasa, atau warga setempat menyebutnya dengan sebutan mercon blanggur, Blaaaar!!! suara ledakan memecah suasana, berikutnya warga menyulut mercon renteng ditutup dengan ribuan sreng dor.

Tradisi berbahaya ini biasanya di gelar setiap hari Raya Kupat atau lima hari setelah Hari Raya Idul Fitri. Tradisi yang sudah ada sejak puluhan tahun ini berawal dari Nur Arifin seorang tentara angkatan 45, Awalnya Arifin iseng membuat petasan untuk memeriahkan datangnya Idul Fitri.

Fauzi, salah satu keluarga Arifin menuturkan awal merebaknya bisnis petasan di desanya itu. Diceritakan, ide untuk membuat petasan Arifin bermula dari iseng untuk meramaikan datangnya Idul Fitri. Dengan berbekal keahliannya yang diperoleh saat menjadi tentara, Arifin mecoba membuat petasan dengan jenis yang sederhana. Rupanya, ide Arifin ini banyak digemari warga. Setiap Idul Fitri, warga setempat menginginkan Arifin utnuk menggelar pesta petasan. Hingga agenda rutin menyambut Idul Fitri dengan pesta petasan pun terbentuk.

Warga pun berkeinginan untuk memiliki keahlian serupa dengan Arifin. Dengan niat menularkan ilmunya, Arifin pun berusaha untuk mendidik beberapa warga yang dipercaya untuk membuat petasan. ''Tapi waktu itu Pak Arifin tak sembarangan memilih orang. Mereka disuruh berpuasa dulu dan diberi aturan untuk tidak menggunakan sembarangan keahlian membuat petasan ini,'' kata Fauzi.
Pesan ini rupanya tak banyak diindahkan beberapa orang yang mewarisi ilmu Arifin. Hingga akhirnya, keahlian merakit petasan ini seakan menjadi milik seluruh warga. Niat untuk membalik pesan Arifin juga dilakukan warga dengan menjual keahlian itu. Hingga setelah berjalan beberapa tahun, Keras menjadi desa penghasil petasan terbesar di Jombang. (lw2)

Dahsyatnya Ngontel Bandung Hingga Bali

Foto : Munthis Stanislavski/bejo.NET
Jombang, beritajombang.NET - Kalau sudah menjadi hobi apa saja bisa diterjang. Meski harus berlumur eluh dan meregang lelah. Itulah yang tergambar pasangan kekasih Antoni dan Erna dari Bandung, Jawa Barat. Sengaja menghabiskan liburan ke Pulau Bali dengan cara yang tidak biasa. Bersepeda adalah pilihan alat transportasi yang digunakan menuju pulau para dewa tersebut.

Mulai berangkat sejak (1/8) dari Bandung menuju ke Bali. Perjalanan ini terbilang tidak biasa sebab jarak yang ditempuh mencapai ratusan kilometer dan harus menyebrang lautan pula. Namun kalau sudah menjadi tekat sudah tidak dapat dibendung meski kalau ukuran orang biasa ini melihat sebagai perjalanan yang dahsyat.

"Saya sudah mulai menyukai bersepeda dari tahun 2008. Mulanya hanya digunakan kalau berangkat menuju kantor," ungkap Erna, perempuan cantik berparas oriental.

Dulunya hanya untuk menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Makanya mencoba menggunakan sepeda bersama rekan kantor lainnya. Lambat laun mulai tumbuh benih cinta bersepeda dan menjadi kebiasaan. Berikutnya mulailah mencoba bersepeda dengan jarak yang cukup jauh dan menemukan hal-hal baru saat bersepeda.

Perjalanan ini dilakukan dengan konsisten sejak hari pertama start. Kecepatan dijaga agar bisa bertahan hingga ke pulau seribu pura tersebut. Jika sudah merasa lelah mengayuh maka beristirahat sejanak baru kemudian dilanjutkan kembali.

Antoni, rekan perjalanan Erna menjelaskan, "Tantangan terberat adalah melawan angin yang kencang di Jalur Pantai Utara (Pantura). Walaupun sudah mengayuh sekuat tenaga tetap saja masih terhempas oleh angin."

Mereka sengaja mencoba jalur peninggalan Belanda itu. Bahkan sesekali ada kendala pada sepedanya mereka sudah bersiap membawa ke toko sepeda di kota yang meraka singgahi. Selebihnya tantangan lain adalah jalan yang dilewati, terkadang ada jalan landai atau sebaliknya malah menanjak tajam dan membutuhkan tenaga ekstra untuk melewati.

Jombang disinggahi setelah start kembali dari Caruban, Kabupaten Madiun Jawa Timur setelah istirahat di hari kelima. Di sambut oleh Komunitas Jombang Bersepeda dari gapura masuk Kabupaten Jombang di Kecamatan Perak. Setelah itu mereka singgah di Graha Media untuk bertegur sapa dengan pesepeda Jombang dan merasakan sensasi bersepeda malam saat Ramadhan di Jombang dengan mengunjungi kawasan makam Gus Dur.

Rencananya baru besok melanjutkan perjalanan menuju Bali. Jombang di pilih sebagai tempat peristirahatan setelah perjalanan dari Caruban sampai Jombang karena medannya cukup berat dan lalulintas yang padat oleh kendaraan pemudik. Perjalanan ini mereka anggap juga sebagai latihan awal sebelum mencoba bersepeda ke Nepal pada tahun depan.

"Kami berharap tahun depan bisa bersepeda ke Nepal. Ini kami sebut sebagai simulasi awal untuk perjalanan internasional kedepan." tegas Erna di sela istirahat di Graha Media. (lar/beritajombang.NET)

Air Terjun Tretes, Keindahan Alam yang Tersembunyi

Jombang selama ini dikenal sebagai kota santri, karena memang di Jombang banyak didirikan pondok pesantren. Tetapi jangan salah, kota santri ini juga menyimpan banyak potensi keindahan alam, salah satunya adalah Air Terjun Tretes. Air terjun tersebut berada di Desa Galengdowo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang. Keindahan wisata yang berjarak 40 km dari kota Jombang ini tidak perlu diragukan lagi. Siapapun yang menjejakkan kaki disana, akan merasakan harmoni nuansa keaslian alam yang masih sangat terjaga rapi.
Klik disini untuk melihat foto lainnya.
Terdapat dua jalan untuk menuju lokasi Air Terjun Tretes. Yang pertama, melalui wilayah Kabupaten Jombang, berupa jalan setapak yang melewati bukit dan sungai. Panjang jalan dari tempat parkir ke lokasi sekitar 5 km. Sedangkan jalan yang kedua melalui wilayah Kabupaten Kediri, berupa jalan batu yang dapat dilalui oleh kendaraan roda empat seperti jeep dan sejenisnya. Panjang jalan dari tempat parkir ke lokasi sekitar 1 km.
Tertarik mendatangai tempat wisata ini? Untuk dapat menjangkau lokasi air terjun, dibutuhkan persiapan yang cukup. Karena, jalan menuju kesana sangat terjal dan berliku. Kita diharuskan melewati jalan setapak yang penuh dengan bebatuan licin dan beberapa sungai kecil di tengah – tengah hutan. Dengan ketinggian 158 meter dan terletak di ketinggian 1250 meter di atas permukaan air laut, tidak ada seorang pun yang dapat menolak pesona Air Terjun Tretes ini. ( fir / beritajombang.NET )


Pencuri Mutilasi Sapi Di Sumobito

Jombang (beritajombang.NET) - Pencurian hewan dengan cara memotong-motong untuk diambil beberapa bagian dagingnya, kembali terjadi, Rabu (12/6/2013). Sapi betina milik Khoiri (39), warga Dsn Dowong, Ds Nglele, Kec Sumobito jadi sasaran pelaku. Pada waktu ditemukan sudah dalam keadaan terpotong-potong. Kepala dan empat kaki sapi tersebut lenyap digondol pelaku.

Sebelumnya, usai digembala pada sore harinya, sapi milik korban langsung dimasukkan ke kandang yang berada di belakang rumahnya dan mengunci pintu kandangnya. Keesokan paginya, ketika korban hendak mengeluarkan sapi betina berwarna merah miliknya dari kandang, korban seketika kaget. Pasalnya korban mendapati pintu kandang terbuka lebar dan sapi betina miliknya sudah tidak ada lagi. Saat  itu juga korban  mencari ke sekitar kandang. Betapa terkejutnya, matanya melihat seonggok bangkai sapi, ternyata potongan tubuh hewan tersebut tak lain adalah sapi miliknya

Bagian kepala dan 4 kaki sapi miliknya amblas. Mengetahui sapi miliknya dicuri dan dipotong-potong, korban segera lapor ke polsek setempat. Atas laporan tersebut, beberapa petugas segera tiba di lokasi. Selain meminta keterangan saksi-saksi, petugas juga lakukan olah TKP (Tempat Kejadian Perkara). "Segera dilakukan penyelidikan untuk ungkap pelakunya," jelas AKP Sugeng Widodo, Kasubbag Humas Polres Jombang. [lw2]

HUT Bhayangkara, Polres Jombang Khitan 67 Anak

foto : Yusuf / Luhur Wahyu / beritajombang.NET
Polres Jombang menggelar khitan massal dalam rangka memperingati HUT Bhayangkara ke-67, Rabu (12/6/2013). Acara yang di buka oleh Kapores Jombang, AKBP Tribisono itu diikuti 67 anak.

"Khitan massal ini dalam rangka memperingati HUT Bhayangkara ke-67.
Kebetulan, yang mengikuti khitan massal ini juga 67 anak. Mereka
berasal dari 21 kecamatan di Jombang," kata Kapolres Jombang, AKBP Tri
Bisono Soemiharso.

Tri Bisono menjelaskan, kegiatan sosial tersebut guna mempererat hubungan antara polisi dengan masyarakat. "Karena
fungsi dari Polri adalah pengayom masyarakat. Oleh karena itu
komunikasi keduanya harus terus dipupuk," ujarnya.

Diantara anak-anak yang menjalani khitan, terdapat satu anak yang
berusia paling muda. Dia adalah Umair Abdul Rozaq (6), putra dari
Nuruddin (37), warga Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto, Jombang.
Meski masih duduk di bangku TK, namun Umair tidak menangis saat ujung
alat kelaminnya dipotong.

Dia mengatakan, khitan bagi anaknya ini bukan karena paksaan. "Anaknya
sendiri yang minta, kami turuti karena memang anaknya yang mau,"
pungkasnya. [lw2]

Moncernya Kembali Wayang Potehi

FOTO : Munthis Stanislavski/beritajombang.NET
Wayang Potehi koleksi Toni  Hartono

Gudo (beritajombang.net) - Kesenian tradisional Wayang Potehi asli peninggalan etnis Thionghoa itu berkembang di berbagai wilayah Indonesia pada abad ke-16, begitu pula di Jombang. Hampir setiap tempat peribadatan Tridarma (Tios-Budha-Kong Hu Cu). Salah satu sentra kebudayaan Cina di Jombang cukup kental di kawasan Kecamatan Gudo, hal itu karena terdapat Kelenteng berusia lebih dari 3 abad yakni Kelenteng Hong San Kiong. Wayang Potehi sering digelar dua kali dalam setahun biasanya di pentaskan saat peringatan hari lahir Dewa. Misalnya Kong Co Tek Jin atau Dewa Bumi di bulan 2 penanggalan Cina ketika Dewa mencapai kesempurnaan. Menurut kisah versi salah satu dalang Potehi di Jombang, Toni Hartono sekaligus Ketua Wayang Potehi Fu He An Indonesia, Potehi berasal dari gabungan kata pou (kain), te (kantong) dan hi (wayang) atau wayang dari kantong kain.

"Pada dasarnya bagian utama Potehi ada di bagian kepala. Bagian  itu sangat menentukan karakteristik wayangnya. Mulai dari desain mimik wajahnya sampai pada pewarnaan. Selanjutnya ada bagian tangan dan kaki. Ketiga bagian itu kemudian dibungkus dengan kain mori yang berisi dakron atau semacam kapas," terang Toni, yang sudah menghasilkan buku Wayang Potehi.

Wayang Potehi awalnya dimainkan oleh lima orang tahanan Kaisar Dinasti Song, yang mendapat vonis hukuman mati. Selama menunggu eksekusi, salah satu tahanan itu memiliki ide untuk menghibur diri dan teman-temannya dengan memainkan wayang dan menggunakan piranti seadanya, panci, priring dan peralatan lainnya yang bisa ditabuh dan menghasilkan bunyi-bunyian. Kemudian pertunjukkan dalam penjara itu terdengar sampai di Istana Kaisar, sehingga terpidana itu lantas dibebaskan dan dijadikan penghibur wayang di istana. Sejak itulah Wayang Potehi menjadi populer.

Tokoh Wayang Potehi juga bermacam-macam, tergantung watak tokohnya. Kostum dan desain wayangnya pun menyesuaikan. Menurut dalang Potehi, Toni Hartono yang juga menjadi ketua pengurus Kelenteng Hong San Kiong menyebutkan ada ratusan karakter wayang, mulai dari yang baik, jahat, genit, angkuh, dan karakter lainnya. Bahkan Toni juga memliki koleksi Wayang Potehi yang berusia ratusan tahun dari mendiang kakeknya.

 Para pemain Wayang Potehi itu terdiri dari dalang yang menjalankan wayang, asisten dalang  membuat pertunjukkan semakin meriah, sehingga dalam panggung itu bisa muncul lebih dari dua wayang yang diamainkan. Selanjutnya 2 atau 3 pemain musik yang memainkan alat musik berupa Gembreng, Terompet, Simbal, Piak Kou, Kecer, Rebab secara bergantian. Lakon-lakon yang dimainkan semisal Sie Jin Kwei, Sun Go Kong atau See Moe, Poei Sie Giok, Hong Kian Chun Chiun yang dimainkan dengan dialek Hokkian. Namun kini dalam perkembangannya dimainkan ke dalam Bahasa Indonesia, sehingga masyarakat heterogen yang bukan dari etnis Thionghoa bisa menikmati alur cerita yang dimainkan dalam Potehi.

“Kebetulan leluhur saya dulu dalang potehi semua, kakek saya dalang, trus papa saya juga dalang. Wayang potehi yang usianya ratusan tahun ini masih rajutan dan jahitan tangan. Motif-motifnya juga dibuat dengan tangan. Banyak sekali karakternya. Tapi yang banyak disukai masyarakat itu Sie Jin Kui atau yang sekarang dijadikan ketoprak Joko Sudiro”, tutur Toni sambil memerkan koleksi Wayang Potehinya.

Keberadaan Wayang Potehi tidak hanya diilhami sebagai seni pertunjukkan Wayang yang menyajikan alur klimaks dan anti-klimaks saja, tetapi memiliki nilai-nilai sosial dan ritual, sehingga membuat kebudayaan yang berkembang di Kabupaten Jombang semakin berwarna. Inilah salah satu aset budaya yang perlu dilestarikan di tengah peradaban moderenisasi, tentu dengan memadukan inovasi-inovasi kultural lainnya, agar budaya Indonesia juga semakin kaya. Namun tanpa menanggalkan hakikat dasarnya. [dra/lar]

CANDI RIMBI YANG EKSOTIS SEBELUM KE WONOSALAM

Jombang (beritajombang.net) Bagi peminat sejarah, sedikit banyak pasti mengenal salah satu peninggalan Kerajaan Majapahit ini, Candi Arimbi. Sementara bagi saya, setidaknya pada Oktober 1989, ketika saya baru menginjak kelas VI SD, pernah mengunjunginya sebagai satu rangkaian kegiatan kepramukaan ketika itu. Tempat ini dipilih karena secara geografis lebih dekat dengan kampung halaman dimana SD saya berada. Disamping itu, ketika itu lagi demam sandiwara radio “Tutur Tinular” dan “Mahkota Mayangkara”, sebuah cerita rakyat yang bersumber dari sejarah Majapahit. Latar dari cerita itu salah satunya adalah Candi Arimbi dan tentu saja Gunung Anjasmara, yang menjadi tempat tumpah darah saya.

Hal-hal itulah yang membuat saya terusik dan tertarik untuk membaca buku-buku sejarah yang mengulas tentang Candi Arimbi dan seputar Kerajaan Majapahit. Dan ternyata setelah saya bandingkan ketika itu, isi atau cerita dalam sandiwara radio dan buku-buku hampir tak jauh berbeda.

Maka, dalam kesempatan ini saya kembali “terusik dan tertarik” untuk menuliskannya apa-apa yang saya ingat dari cerita dan buku-buku itu. Kebetulan juga beberapa hari yang lalu saya sempat berkunjung ke tempat ini. Kunjungan itu saya lakukan setelah beberapa hari sebelumnya, ketika membongkar lemari buku, saya menemukan buku saku kegiatan waktu SD yang sempat mencatat kegiatan kunjungan ke beberapa tempat bersejarah tertanggal 19 Oktober 1989.

Candi Arimbi ini adalah salah satu di antara sekian banyak peninggalan Majapahit namun letaknya sangat terpencil dari semua peninggalan Majapahit lainnya. Peninggalan Kerajaan Majapahit kebanyakan terdapat di daerah Majokerto. Di sekitar Candi Arimbi ini ditanami dengan aneka bunga dan dikelilingi pohon-pohon cengkeh.

Dilihat dari motif atau corak arsitekturnya, Candi Arimbi mempunyai latar belakang agama Hindu, dimana di candi ini dulu terdapat Arca Purwati sebagai istri Dewa Siwa yang sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta. Sementara di pelataran atau halaman candi terdapat arca-arca yang berciri khas Hindu.

Nama lain dari Candi Arimbi adalah Caungkup Pulo. Sedangkan nama Arimbi dihubungkan dengan nama tokoh dalam pewayangan, yaitu Dewi Arimbi sebagai isteri dari Raden Werkudoro. Candi ini mempunyai ruangan pusat, tempat Arca Purwati dan arcanya sekarang di Museum Nasional Jakarta, yang melukiskan Tribuwana Wijaya Tungga Dewi, Raja Majapahit yang memerintah pada tahun 1328–1350 M. Masa pembangunan Candi Arimbi pada abad XIV M pada jaman Majapahit.

Secara administratif letak situs Candi Arimbi berada di Desa Pulosari Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang, secara arsitektural bangunan Candi Arimbi berdiri di atas alas dengan tinggi dan tangga masuk berada di sebelah barat, bahan terbuat dari batu andesit sedangkan pondasinya dari bata, arah hadapnya ke barat. Situs Candi Arimbi sekarang memiliki luas 896.56 m2.

Candi ini terletak di sebelah tenggara Kota Jombang atau sekitar 24 km dari Kota Jombang. Dari Mojoagung atau jalan provinsi yang menghubungan Surabaya-Jombang, candi ini terletak di sebelah selatan dengan jarak tempuh ± 17 km menuju kawasan pegunungan Wonosalam. Tinggi candi ± 10 m, lebar ± 6 m dan panjangnya ± 8 m. Setelah wafatnya Dewi Arimbi, konon jasadnya disemayamkan di Candi Arimbi ini. Sejak saat itu pula lambat laun wilayah di sekitar candi ini dikenal sebagai Dusun Ngrimbi.

Namun sayangnya, candi ini belum pernah dipugar atau mendapatkan perawatan selayaknya sehingga tak tampak lagi kemegahannya. Beberapa bagian candi setinggi sekitar delapan meter mulai terlihat pecah-pecah dan bagian puncak dan tengah keropos. Di musim hujan seperti saat ini, lumut hijau juga semakin subur tumbuh menutupi permukaannya. Hal ini seharusnya tak perlu terjadi jika ada ”sentuhan serius” dari pihak berwenang dan yang diberi tanggungjawab.

Untuk mencapai obyek wisata sejarah ini, dapat menggunakan berbagai macam alat transportasi. Ada angkutan umum dari Mojoagung menuju Wonosalam yang dapat ditempuh sekitar 30 menit. Lokasi candi persis di tepi jalan raya Mojoagung-Wonosalam. Namun, akan lebih enjoy jika perjalanan memakai kendaraan pribadi (mobil atau motor) sebab setelah kunjungan ke kawasan ini, kita bisa melanjutkan perjalanan sepuasnya untuk menikmati panorama lain di kawasan Pegunungan Anjasmara Wonosalam, apalagi di bulan ini (Desember) kawasan Wonosalam sedang musim durian, kita bisa berburu aneka jenis durian sepuas mungkin. Dengan mengunjungi situs ini dan kawasan sekitarnya, selain akan menambah pegetahuan sejarah dan kebudayaan kita, setidaknya kita juga telah membantu perekonomian para petani-petani kecil dengan memborong produk-produknya seperti durian lokal ini. Daripada uang kita (Anda) yang berlimpah terhambur untuk melancong ke luar negeri dan atau membeli produk-produk impor, alangkah bijaknya kalau Anda kucurkan keberlimpahan uang Anda itu untuk petani dalam negeri, apalagi kondisi sedang krisis seperti saat ini. Ada yang tertarik?

smbr . pecangkul

 
Copyright © 2015 Hallo Jombang. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger